Harga jalan bokar PTNB hari Senin- Rabu, 22 - 24 Mei 2017 = Rp.12.750,- per kg karet kering.
00-Mekar Bersemi di Tahun 20151 02-Peresmian Pabrik Karet PTNB Tahun 20132 03-Peresmian Pabrik Karet PTNB Tahun 20133 04-Pengurus PTNB Tahun 2012-20144 05-Upacara 17 Agustus 20145 06-Pelatihan Karyawan PTNB 20136 07-Penerimaan Bokar Petani7 08-Penerimaan Bokar Petani8 09-Produksi SIR20 KBY9 10-Ekspor Perdana KBY10 11-Kegiatan Ekspor SIR2011 12-AntriBokar12 12-RUPS LK201613 13-Kegiatan Pelabuhan Surabaya14 14-Laboratory PTNB15 15-Mekar Bersemi di Tahun 201516 01-Pengurus PTNB tahun 201717
css slider by WOWSlider.com v8.6

Masa depan komoditi karet

Batulicin, 14 Desember 2014

Sejak terjadinya penurunan harga karet dunia yang diawali pada bulan Januari 2014 dan berlanjut hingga saat ini, berbagai analisis tentang harga karet berkembang. Ada yang memprediksi penurunan harga ini akan berakhir pada pertengahan tahun 2014 seiring dengan adanya kemarau panjang, badai El Nino, membaiknya perekonomian di China sebagai konsumen karet terbesar di duia, menurunnya produksi karena petani enggan menyadap karet, dan lain-lain. Pada kenyataannya, harga karet yang pada akhir Nopember 2014 sempat naik ke USD 1,60 / kg, kini turun lagi menjadi USD 1,40 / kg. Tidak kunjung membaiknya harga karet, menyebabkan petani karet di India, Vietnam, Thailand dan Indonesia menjadi jenuh dan beralih ke komoditi lain, bahkan ada yang sudah menebang pohon karetnya. Di Kalimantan Selatan, Pemkab Tabalong mendorong petani karet untuk beralih ke kelapa sawit (http://www.metro7.co.id/2014/10/harga-karet-mentah-anjlok-bupati-anang.html) atau menanam pohon aren (http://www.kalimantan-news.com/berita.php?idb=26306#). Thailand, sebagai negara penghasil dan eksportir karet terbesar dunia, telah mendorong petaninya untuk menebang 350.000 pohon karet setahun demi meningkatkan harga karet dan menyarankan petaninya untuk menanam kelapa sawit. Pemerintah Thailand mengharapkan petani akan menebang karet seluas 160.000 hektar atau 8% dari total areal tanaman karet di Thailand dan memberi ruang bagi pengembangan kelapa sawit. (The Wall Street Journal by Hileng Tan, 12 Agustus 2014, http://www.wsj.com/articles/thailand-encourages-rubber-farmers-to-switch-crops-1407839494#).

Kami telah membujuk petani untuk menjaga pohon karet karena mereka telah menginvestasikan banyak uang dan waktu, tetapi mereka memiliki hak untuk menebang pohon karet mereka,” kata Nguyen Dac Hung, Kepala Departemen Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Distrik Tan Bien, Vietnam. Dan petani telah menebang pohon karet muda mereka. (Vietnam News, 16 Juni 2014, http://vietnamnews.vn/economy/256224/latex-prices-plunge-rubber-trees-axed.html).

Bagaimana sebenarnya masa depan komoditi karet? Memang, dengan menurunnya produksi karet dunia, harga pasti akan naik. Tapi, apakah tidak mungkin lagi untuk meningkatkan produksi karet?

Malaysia, salah satu negara penghasil karet dunia, tetap menilai bahwa karet adalah produk unggulan bagi negaranya, dan mengkhawatirkan petaninya akan beralih ke komoditi lainnya. Untuk membantu pemasaran karet di Malaysia, tahun lalu Pemerintah Malaysia memproduksi sarung tangan secara besar-besaran untuk disumbangkan ke Afrika. Tetapi upaya itu masih belum cukup, karena harga masih belum membaik.

Untuk ini diperlukan upaya yang sangat besar sehingga dapat menjamin keberlangsungan komoditas karet di Malaysia. Upaya tersebut sedang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia yaitu Bantuan untuk Petani Karet dan Proyek Fenomenal “Rubberized Road”.

Berikut ini adalah teks lengkap dari Anggaran 2015 yang diajukan oleh Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Datuk Seri Najib Razak di Dewan Rakyat : 143. Baru-baru ini, Pemerintah memberikan bantuan khusus RM500 untuk petani karet dipengaruhi oleh penurunan harga karet. Dewan Karet Malaysia (MRB) akan mengalokasikan RM100 juta untuk menerapkan regulasi mekanisme harga di tingkat petani untuk melindungi petani dari kerugian yang ditimbulkan, terutama ketika harga pasar dunia jatuh di bawah harga minimum. MRB juga akan memberikan pinjaman lunak dari RM6.4 juta sebagai modal kerja untuk 64 petani koperasi untuk membeli karet langsung dari 442.000 petani karet nasional.(New Straits Times, Sunday, 14 December 2014, 2:08 PM, http://www.nst.com.my/node/41524)

Pada Oktober 2014, Pemerintah Malaysian mengumumkan rencana untuk membangun jalan menggunakan rubberized road mulai tahun 2015 untuk meningkatkan permintaan karet domestik dan mengurangi tekanan terhadap harga. Pemerintah Thailand juga mengumumkan rencana serupa pada Agustus 2014.(The Smartcube, Will Rubber Prices Continue to Nose-Dive byMayank Taneja, Senior Analyst, Dec 05,2014, http://www.thesmartcube.com/insights/blog/blog-details/insights/2014/12/05/will-rubber-prices-continue-to-nose-dive).

Apakah Rubberized asphalt concrete (RAC) itu? Apakah hubungannya dengan judul tulisan ini?

Rubberized asphalt concrete (RAC), disebut juga asphalt rubber atau rubberized asphalt, adalah bahan pengerasan yang terdiri dari beton aspal biasa yang dicampur dengan karet remah dari daur ulang ban. Karet aspal adalah pasar tunggal terbesar untuk karet tanah di Amerika Serikat, mengkonsumsi sekitar £ 220,000,000 (100.000.000 kg), atau sekitar 12 juta ban per tahun. (http://en.wikipedia.org/wiki/Rubberized_asphalt)

Penggunaan aspal karet sebagai bahan pengerasan dipelopori oleh kota Phoenix, Arizona pada tahun 1960 karena memiliki daya tahan tinggi. Sejak itu banyak yang tertarik karena kemampuannya untuk mengurangi kebisingan jalan. Di seluruh negara bagian Amerika Serikat telah menggunakan aspal karet. Belgia juga telah menggunakannya.
“Malaysia plans to build rubberized roads from 2015 in a bid to boost domestic consumption and shore up battered prices of rubber, after a price-floor plan by major producing nations proved tough to implement among farmers desperate for cash.” (Nongkhai Central Rubber Market, Thursday, 16 October 2014).
Menurut laporan berita Straits Times, Malaysia akan mempersiapkan untuk membangun rubberised road pertama pada bulan Juni 2015. Datuk Amar Douglas Uggah Embas, Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas mengatakan hal ini pada media briefing.
Dia menjelaskan bahwa beberapa negara sudah mulai penelitian tentang berbagai penggunaan karet, terutama di bidang konstruksi. Beberapa dari mereka telah menggunakan karet alam (NR) untuk pembangunan jalan. Malaysia juga akan menjadi salah satu dari mereka, katanya.
Thailand telah melakukan uji coba dengan 3,3 ton karet alam per km untuk pembangunan rubberised road. Hasil menunjukkan bahwa meskipun biaya awal yang tinggi, namun pemeliharaan jangka panjang lebih rendah dibandingkan dengan setara aspal.
Dua persyaratan kontrol kualitas yang diperlukan bila menggunakan karet aspal: (a) karet remah cenderung untuk memisahkan dan menetap di semen aspal dan karenanya karet aspal perlu diaduk terus menerus untuk menjaga partikel karet tersuspensi dan (b) karet remah rawan degradasi (devulkanisasi dan depolimerisasi) dan dengan demikian kehilangan elastisitas jika karet aspal berada pada suhu tinggi selama lebih dari 6-8 jam. Ini berarti karet aspal harus digunakan dalam waktu 8 jam setelah produksi (http://en.wikipedia.org/wiki/Rubberized_asphalt).

Dari uraian diatas, dapat dibayangkan kalau produksi karet Malaysia dan Thailand terserap untuk membangun jalan di negaranya sendiri, sementara permintaan karet dari Amerika Serikat dan Eropa untuk kebutuhan yang sama juga akan meningkat. Haruskah petani karet Indonesia beralih ke komoditi lain?

One Commentto Masa depan komoditi karet

  1. Khalid Ahmed says:

    Nice Country . Nice People. Nice Factory.
    Thank you.
    From : Khalid Ahmed. Karachi Pakistan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *