Harga jalan bokar PTNB hari Senin- Rabu, 22 - 24 Mei 2017 = Rp.12.750,- per kg karet kering.
00-Mekar Bersemi di Tahun 20151 02-Peresmian Pabrik Karet PTNB Tahun 20132 03-Peresmian Pabrik Karet PTNB Tahun 20133 04-Pengurus PTNB Tahun 2012-20144 05-Upacara 17 Agustus 20145 06-Pelatihan Karyawan PTNB 20136 07-Penerimaan Bokar Petani7 08-Penerimaan Bokar Petani8 09-Produksi SIR20 KBY9 10-Ekspor Perdana KBY10 11-Kegiatan Ekspor SIR2011 12-AntriBokar12 12-RUPS LK201613 13-Kegiatan Pelabuhan Surabaya14 14-Laboratory PTNB15 15-Mekar Bersemi di Tahun 201516 01-Pengurus PTNB tahun 201717
css slider by WOWSlider.com v8.6

Keajaiban Leicester City FC : 3 Pelajaran Kunci tentang Sukses dan Passion

Gambar diambil dari http://strategimanajemen.net/apps23/wp-content/uploads/2016/05/leicester-behind-scenes_3431711.jpg

Batulicin, 9 Mei 2016

Setiap Senin pagi, saya selalu menerima kiriman email dari blog http://strategimanajemen.net/ yang dikelola oleh Yodhia Antariksa. Isinya selalu bagus, terutama mengenai human resource (motivasi), dan sering saya jadikan bahan dan rujukan untuk memberikan motivasi kepada karyawan di PT Nusantara Batulicin. Bahasanya sangat membumi, santai, renyah, selalu cocok menjadi teman minum kopi / teh di pagi hari, mak sruput……

Artikel kali inipun sangat pas dengan kondisi SDM di PT Nusantara Batulicin, yang saat ini sedang bersemangat untuk berpacu dalam produksi, dalam rangka mengejar mimpi menjadi perusahaan yang memiliki daya saing tinggi.

YES! KITA BISA! Inilah yel-yel yang selalu diteriakkan oleh seluruh karyawan setiap pagi, sebelum memulai kegiatan.

Kembali ke artikelnya pak Yodhia diatas, menceritakan bagaimana Leicester City yang mewakili stereotip miskin, penurut, dan lemah tak berdaya, sukses menjadi juara, setelah mampu menarik simpati banyak pihak di sekitarnya. – See more at: http://strategimanajemen.net/2016/05/09/keajaiban-leiceter-city-3-pelajaran-kunci-tentang-sukses-dan-passion/#comment-196889

Para rival yang secara teknis lebih kaya, lebih kuat, dan memiliki posisi tawar lebih tinggi, di akhir musim justru mendukung si lemah itu untuk mengukir sejarah.

Sepakbola adalah miniatur organisasi. Di sana secara lengkap tersaji strategi organisasi, pemilihan struktur, penempatan personel, pengembangan pemain, motivasi, kerjasama, kegairahan, target, dan menang atau kalah.

Maka, dari kemenangan Lecester City ini, kita bisa bercermin kembali, mengapa mereka bisa sukses.

LCFC jelas memberikan pelajaran bahwa modal uang saja tidak bisa membeli kesuksesan.

Ada hal-hal yang jauh lebih berperan bagi kesuksesan organisasi dan bisnis. Apakah itu?

Kerja Sama.
“Fans seperti tomat. Tanpa tomat, tidak akan ada pizza.”

Sebuah ungkapan sederhana dari Claudio Ranieri ini menggambarkan betapa dirinya sangat menghargai setiap elemen dalam organisasi, bahkan kepada penonton yang kalau dalam proses bisnis, penonton ini bukan pelaku utama dalam keberhasilan organisasi.

Kalau dalam organisasi dikenal adanya critical position dan supporting position, jelas penonton tidaklah masuk dalam critical position. Tapi Ranieri menganggap bahwa tanpa adanya penonton, organisasi tak bisa eksis.

Psikologi mengenal adanya istilah Kohesivitas. Ini adalah nama lain dari teamwork. Carron mendefinisikan teamwork sebagai proses dinamik yang menggambarkan kecenderungan sebuah kelompok yang tetap bersatu dan tetap pada kebersamaan tujuan dan sasaran.

Sebuah team atau kelompok dikatakan kohesif jika memiliki tanda-tanda sebagai berikut: adanya saling ketergantungan antar anggota, hubungan yang stabil antar anggota kelompok, perasaan bertanggung jawab terhadap hasil usaha kelompok, berkurangnya ketidakhadiran, dan kemampuan bertahan terhadap gangguan.

Ciri-ciri ini ada semuanya di Leicester City. Tidak adanya pemain yang berstatus ‘sangat bintang’ membuat mereka harus berkolaborasi untuk menghasilkan kinerja yang terbaik.

Si Rubah adalah organisasi yang sangat fokus pada tujuan. Statistik mereka yang menggambarkan kinerja proses bukanlah yang terbaik. Penguasaan bola kurang dari 45%, rata-rata jumlah umpan dalam satu pertandingan masuk katergori 5 tim terbawah, akurasi umpannya pun memprihatinkan unutk ukuran kampiun liga besar dunia.

Namun mereka mampu mengeksploitasi keunggulan kompetitif mereka untuk mendapatkan kinerja hasil yang maksimal.

Di sini prinsip pareto berlaku. Bahwa siapapun yang mampu mengoptimalkan 20% keunggulan kompetitif pada bisnis utama, memiliki peluang keberhasilan 80%. Keunggulan kompetitif mereka adalah kecepatan pemain-pemainnya.

Tak tanggung-tanggung, mereka menyumbang 4 pemain dengan kecepatan tertinggi di Premier League dan 3 posisi teratas diduduki pemain mereka, sementara yang peringkat keempat adalah eks akademi Leicester.

Keunggulan kedua adalah pertahanan yang solid. Hal ini ditandai dengan kiper mereka, Kasper Schmeicel mencatat clean sheet (tidak kebobolan dalam satu pertandingan) di posisi keempat terbaik. Sedangkan bek mereka, Kante, adalah pemain tersukses dalam melakukan intersep dan tekel dibanding bek-bek tim lain.

Jadi yang merela lakukan adalah bertahan dengan baik, tak memainkan bola terlalu lama, mengirimkan bola-bola daerah dan langsung maju ke depan dengan kecepatan pemain-pemain mereka, untuk menghukum tim lawan melalui serangan balik. Ini tak akan berhasil jika mereka tidak melakukan kerjasama dengan baik.

Resiliensi.
Saya mengenal istilah ini dari Handry Santriago (CEO GE) beberapa tahun lalu ketika menceritakan kisah sukses beliau.

Salah satu yang sangat membekas adalah cerita tentang resiliensi ini. Ia menyebutkan bahwa kunci sukses dirinya adalah ability to bounching back <kemampuan untuk bangun kembali setelah mengalami kejatuhan>

Ada dua pilihan ketika jatuh, menjadi karung pasir atau menjadi bola bekel. Kantong pasir ketika jatuh tidak ke mana-mana. Namun bola bekel berbeda. Ketika dijatuhkan ke lantai, dengan kelenturannya dia akan memantul. Semakin keras didorong atau dijatuhkan ke lantai, semakin tinggi bola itu melenting.

Leicester City jangan ditanya. Dia adalah simbol tim yang teraniaya. Musim sebelumnya harus berjuang mati-matian hanya untuk bisa bertahan di Liga Primer. Awal musim harus kehilangan pelatih karena masalah non teknik.

Namun mereka mampu bangkit dari keterpurukan itu dan hasilnya adalah kesuksesan. Cerita-cerita sukses semacam ini sangat sering kita jumpai.

Passion.
“Resep paling penting itu semangat tim. Kedua, para pemain dapat menikmati sesi latihan. Ini penting supaya mereka bisa bekerja keras sekaligus menikmatinya,” ungkap Ranieri.

Kutipan ini menggambarkan bahwa tim ini diliputi oleh semangat yang tinggi, yang terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Semangat itu dijaga secara konsisten baik di latihan maupun di pertandingan.

Hanya semangat di salah satu bagian saja tidak akan sukses. Misalnya hanya semangat di latihan, dengan target terpilih di starting line up, tidak akan membawa kesuksesan tim di pertandingan sesungguhnya. Sedangkan semangat saja di pertandingan tidak cukup.

Tim yang sukses dalam jangka panjang membutuhkan Myelin yang memadai.

Myelin, istilah dari Rheinald Kasali, atau membangun otot kerja secara intensif melalui latihan yang spartan. Maka, myelin tidak akan cukup terbentuk jika tidak dilatih dengan semangat. Jika Myelin organisasi tidak kuat, maka ketika pertandingan pun tidak akan maksimal. Istilah iklannya, Semangat aja Tidak Cukup.

Tiga hal itu adalah sebagian kecil dari banyak hal yang membawa kesuksesan Leicester City.

Menurut Ranieri, “Setelah Anda harus melakukan segalanya dengan benar, tapi seperti sejumput garam di dalam pizza, Anda butuh kemujuran.”

Sepakat dengan hal tersebut, Leicester City adalah sebuah keberuntungan.

Namun ini adalah Keberuntungan versi Thomas Jefferson yang mengatakan, “Saya sangat percaya pada keberuntungan. Semakin keras saya bekerja, semakin besar saya memiliki hal itu.”

Jadi, tidak ada keberuntungan tanpa usaha dan kerja keras.

http://strategimanajemen.net/2016/05/09/keajaiban-leiceter-city-3-pelajaran-kunci-tentang-sukses-dan-passion/#comment-196889

Bagaimana dengan PT Nusantara Batulicin?

Sebagai perusahaan yang baru berumur 4 tahun, dengan modal yang sangat terbatas, apalagi setelah mengalami kerugian besar akibat diterpa badai merosotnya harga karet di tahun 2014 – 2015. Mengawali tahun 2016 ini dengan berbekal modal tipis, namun dengan semangat besar. Keberuntungan juga merupakan modal besar, karena saat ini harga karet mulai membaik.

Dalam hal ini PT NB memiliki keunggulan yang akan dieksplorasi dalam mencaai tujuan.

Kerjasama / Teamwork. Untuk yang satu ini merupakan salah satu keunggulan di PTNB.

Budaya kerja di PTNB yang terakhir ini dipupuk dan diakselerasi hingga menjadi budaya adalah Kerjasama. Karyawan memandang bahwa tujuan akhir perusahaan merupakan mimpi karyawan. Setiap karyawan akan melihat kelompok mana yang mengalami kesulitan dalam mencapai target, maka kelompok lain tanpa dikomando akan dengan cepat memberikan bantuan. Tidak heran kalau melihat di PTNB, seorang Satpam membantu mengemas karet, atau seorang petugas akuntansi juga ikut menimbang karet. Di PTNB tidak ada spesialisasi, hampir semua operator juga menjadi mekanik.

Seorang sopir truck, pada saat truck sedang mengisi remahan, maka dia akan turun dari trucknya dan mengontrol bak blending dan conveyor, atau langsung beralih menjadi operator loader untuk mengumpan bahan.

Karyawan memahami bahwa sasaran akhir perusahaan merupakan tanggung jawab seluruh jajaran, termasuk karyawan di lini bawah. Bila sasaran akhir perusahaan tidak tercapai, maka karyawan yang terbawah juga akan menanggung akibatnya.

Resiliensi / daya tahan. Hal inipun juga merupakan cambuk yang telah dirasakan oleh PTNB pada awal operasional perusahaan di tahun 2014-2015 dengan terpuruknya harga karet dunia dan tidak diperolehnya pinjaman modal kerja dari Bank.

Cambuk tersebut tidak menjadikan karyawan PTNB menjadi jera, justru menjadi lebih kuat. Kalau harga karet dunia turun, berarti harus lebih mengencangkan ikat pinggang. Kalau tidak mendapat modal kerja dari Bank, berarti harus memberdayakan modal sendiri walaupun sangat tipis, asal perputarannya bisa cepat, pasti akan berkelanjutan dan berkembang. Kuncinya ada di kepercayaan pelanggan, baik penjual bahan baku (bokar) maupun pembeli produk akhir (SIR).

Dengan bekal Resiliensi dan kepercayaan pelanggan, maka mulai bulan Mei 2016 ini PTNB bertekad untuk mengembangkan kapasitas produksi 2 kali lipat. < walaupun dengan modal finansial sangat-sangat terbatas, tapi semangat yang berlimpah >. Kedengarannya bombastis banget. Tapi itulah yang terjadi, sehingga tidaklah heran jika proses pembelian bahan baku tersendat-sendat karena kurangnya modal kerja. Beruntunglah karena pelanggan masih menaruh kepercayaan terhadap PTNB. Sehingga pada saat dana tersedia, berbondong-bondonglah penjual bokar berdatangan.

Kondisi demikian juga meningkatkan semangat kerja karyawan. Mereka sudah memahami bahwa semakin tinggi produksi maka daya saing perusahaan akan makin tinggi juga. Secara otomatis karyawan akan menetapkan sendiri target produksinya semaksimal mungkin.

Passion. Seluruh karyawan sudah membayangkan bahwa PTNB akan berhasil. Mereka merupakan generasi muda dengan masa kerja yang masih akan panjang, 25 – 30 tahun lagi. Pondasi-pondasi keberhasilan itu harus dibangun mulai saat ini. Itulah yang menjadi passion mereka.

Kepada karyawan pada saat apel pagi, sering diingatkan bahwa untuk bisa sukses maka VISI harus digantung di langit-langit kamar, sehingga menjelang tidur, bahkan mudah-mudahan akan terbawa ke mimpi, apa yang menjadi VISI tsb akan selalu terbayang.

Bahkan mestinya bukan hanya digantung di langit-langit kamar, tapi digantung di dahi tepat 5 cm di depan mata < kata Genta dalam film Indonesia “5 Cm”>.

Passion in pula yang menjadi penyemangat karyawan setiap hari dengan meneriakkan yel : “YES! KITA BISA!”

Di tengah-tengah persaingan dengan perusahaan karet sekitar yang bermodalkan kuat dan berpengalaman bertahun-tahun, siapa takut?

Semoga.

<sg>

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *