Manajemen

now browsing by category

Berisi berbagai materi tentang ilmu manajemen, manajemen produksi, manajemen mutu, manajemen industri, manajemen SDM, manajemen keuangan, manajemen pemasaran, manajemen finansial, dan lain-lain

 

Manajemen Produksi: Pengertian, Fungsi, Ruang Lingkup, dan Aspek

Artikel dari blog maxmonroe.com tentang pengertian, fungsi, ruang lingkup dan aspek Manajemen Produksi yang sangat lengkap.

 

Manajemen Produksi: Pengertian, Fungsi, Ruang Lingkup, dan Aspek

Pengertian Manajemen Produksi
Ilustrasi Manajemen Produksi

Pengertian Manajemen Produksi

Daftar isi

Apa itu manajemen produksi? Pengertian Manajemen Produksi adalah sebagai penataan proses pengubahan bahan mentah menjadi produk atau jasa yang diinginkan sehingga memiliki nilai jual. Menurut situs UK Esays, produksi ini dikategorikan menjadi beberapa bagian berdasarkan teknik:

  • Produksi yang diambil dari bahan mentah langsung kemudian diekstrak menjadi produk yang diinginkan. Misalnya ekstraksi minyak untuk dibuat menjadi berbagai macam produk.
  • Produk yang didapatkan dengan cara memodifikasi bahan baik secara kimiawi atau parameter mekanis tanpa mengubah atribut fisiknya. Misalnya dilakukan dengan memanaskan bahan baku di suhu yang tinggi.
  • Produksi dengan cara perakitan, misalnya komputer atau mobil.

Pemahaman pengertian manajemen produksi ini kerap dikesampingkan. Padahal dari sini sebuah bisnis bisa melakukan efisiensi karena bagian ini memerlukan dana yang tidak sedikit. Idealnya, bidang produksi harus melakukan beberapa hal seperti:

  • Peningkatan produktivitas
  • Menggunakan simbiosis industri
  • Perlindungan karyawan dari bahaya fisik
  • Penghilangan material yang berbahaya

Hal-hal di atas merupakan bagian yang paling banyak menguras kantong. Belum lagi hukum yang berlaku, peraturan buruh dan juga hambatan lain yang berefek besar pada budgeting produksi. Karena itu, penataan bagian produksi tidak hanya terbatas pada membeli bahan baku murah saja, tapi pembetukan sistem dan pemanfaatan teknologi supaya bisa bertahan dalam keadaan sulit.

Baca juga: Pengertian Logistik

Manajemen Produksi Menurut Para Ahli

Manajemen produksi merupakan bagian dari bidang manajemen  (baca: Pengertian Manajemen) yang berperan dalam mengkoordinasikan beberapa kegiatan untuk mencapai tujuan. Beberapa ahli menjelaskan pengertian Manajemen Produksi, diantaranya adalah:

1. Handoko (1999: 3)

Menurut Handoko, pengertian manajemen produksi dan operasional adalah berbagai usaha pengelolaan secara optimal penggunaan semua sumberdaya (faktor-faktor produksi); tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah, dan lain sebagainya, didalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa.

2. Sofyan Assauri (2008: 19)

Menurut Sofyan Assauri, pengertian manajemen produksi adalah kegiatan untuk mengatur dan mengkoordinasikan penggunaan berbagai sumber daya; sumber daya manusia, sumber daya alat, sumber daya dana, dan bahan, secara efektif dan efisien untuk menciptakan dan menambah kegunaan sebuah barang atau jasa.

3. Heizer dan Reider (2011:4)

Menurut Heiser dan Reider, Manajemen Produksi adalah rangkaian kegiatan yang menghasilakn nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output.

4. Irham Fahmi (2012:3)

Menurut Irham Fahmi, pengertian manajemen produksi adalah sebuah ilmu manajemen yang membahas secara menyeluruh bagaimana pihak manajemen produksi perusahaan menggunakan ilmu dan seni yang dimiliki dengan mengarahkan dan mengatur orang-orang untuk mencapai hasil produksi yang diinginkan.

Artikel Terkait: Manajemen Operasional

Fungsi Manajemen Produksi

Seperti yang kita ketahui pada pengertian manajemen produksi, mereka tidak hanya melakukan proses produksi, tapi juga melakukan berbagai hal lainnya. Menurut Sofian Assauri (2004: 22), ada empat fungsi terpenting pada manajemen produksi, diantaranya:

1. Perencanaan

Ini adalah keterkaitan dan pengorganisasian kegiatan produksi yang akan dilakukan dengan dasar waktu atau periode tertentu. Dengan perencanaan yang baik maka akan meminimalisir biaya produksi sehingga perusahaan bisa menentukan harga yang sehat dan meraih untung yang besar.

2. Proses Pengolahan

Ini adalah metode atau teknik yang digunakan untuk mengolah masukan (input). Proses ini sangat penting untuk pemanfaatan sumber daya secara maksimal dan efisien.

3. Jasa Penunjang

Sarana yang diperlukan untuk penetapan dan metode yang digunakan agar proses pengolahan bisa dilakukan secara efektif dan efisien. Hal ini seringkali diperlukan guna membantu perusahaan bersaing secara sehat dengan meningkatkan produksi dan hasil yang berkualitas.

4. Pengendalian/ Pengawasan

Ini merupakan fungsi untuk menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai dengan perencanaan, dengan begitu maksud dan tujuan dalam menggunakan dan pengolahan masukan (input) dapat dilaksanakan.

Proses ini akan membantu perusahaan mencapai visi dan misi, meningkatkan reputasi perusahaan, serta mempermudah pekerjaan departemen lain seperti marketing, finansial atau pun personalia. Mereka memiliki tanggung jawab untuk memproduksi barang yang sesuai standar pasar sehingga penjualan bisa meningkat.

Peran manajemen produksi ini tentu saja sangat besar meskipun pada bisnis skala kecil. Ketika menejemen produksi dilakukan dengan tepat, bukan tidak mungkin biaya produksi mampu ditekan.

Di samping itu, hal ini juga penting untuk melihat apakah sumber daya yang dimiliki benar-benar efektif. Selain itu, kerjasama antara beberpaa bidang juga sangat diperlukan, khususnya bidang operasional yang nanti bersentuhan dengan konsumen secara langsung.

Baca juga: Manajemen Pemasaran

Ruang Lingkup Manajemen Produksi

Dilihat dari cara mengambil kebijakan utama dan keputusan, ada tiga kategori di dalam ruang lingkup manajemen produksi:

1. Keputusan/ Kebijakan Mengenai Desain

Keputusan ini termasuk dalam keputusan jangka panjang, dimana di dalamnya meliputi; penentuan desain produk yang akan dibuat, lokasi dan tata letak pabrik, desain kegiatan pengadaan masukan yang diperlukan, desain metode dan teknologi pengolahan, desain organisasi perusahaan, dan desain job description dan job specification.

2. Kebijakan/ Keputusan Mengenai Transformasi

Keputusan operasi ini sifatnya jangka pendek, berkaitan dengan keputusan taktis dan operasional. Kebijakan ini mencakup jadwal produksi, gilir kerja (Shift), anggaran produksi, jadwal penyerahan masukan ke sub-sistem pengolahan, dan jadwal penyerahan keluaran ke pelanggan atau penyelesaian produk.

3. Keputusan/ Kebijakan Mengenai Perbaikan

Kebijakan ini sifatnya berkesinambungan, maka kebijakan ini dilakukan secara rutin. Beberapa kegiatan yang ada di dalamnya meliputi perbaikan secara kontinu terhadap mutu keluaran, keefektifan dan keefisienan sistem, kapasitas dan kompetensi dari para pekerja, perawatan sarana kerja atau mesin, serta perbaikan terus-menerus atas metode penyelesaian atau pengerjaan produk.

Baca juga: Pengertian Efektivitas

Aspek-Aspek Manajemen Produksi

Untuk mendapatkan hasil produksi yang sesuai harapan, perlu dilakukan beberapa tahapan penting dalam proses produksi. Berikut ini tahapan dan aspek di dalam Manajemen Produksi:

1. Perencanaan Produksi

Tujuan perencanaan produksi adalah agar proses produksi yang dilaksanakan berjalan secara sistematis. Beberapa keputusan yang berhubungan dengan perencanaan produksi diantaranya;

  • Jenis barang
  • Bahan baku yang digunakan
  • Kualitas barang
  • Kuantitas barang
  • Pengendalian produksi

2. Pengendalian Produksi

Pengendalian atau kontrol produksi sangat diperlukan agar proses produksi berjalan sesuai dengan perencanaan yang ditentukan dengan biaya yang optimal. Beberapa kegiatan dalam pengendalian produksi;

  • Membuat perencanaan
  • Menyusun jadwal kerja
  • Menentukan target market produk

3. Pengawasan Produksi

Tujuan pengawasan produksi adalah agar hasil produksi sesuai dengan apa yang diharapkan, tepat waktu, dan dengan biaya yang optimal. Beberapa kegaitan pengawasan produksi adalah:

  • Menetapkan kualitas barang
  • Membuat standar barang
  • Pelaksanaan produksi sesui jadwal

Bagaimana Agar Produksi Berjalan Efektif?

Mengutip dari Valleysierrasbdc.com, setelah kita memahami pengertian manajemen produksi, langkah selanjutnya adalah melakukan planning produksi. Prosesnya meliputi pengaturan, pengendalian, dan optimasi pekerjaan serta beban kerja.

Penjadwalan digunakan untuk mengoperasikan mesin, pendanaan, sumber daya, proses produksi dan pembelian material. Nah, penjadwalan atau scheduling ini terbagi menjadi dua macam:

  1. Forward scheduling
  2. Backward scheduling

Manajemen Produksi vs Manajemen Operasional

Meskipun berbeda, kedua departemen ini saling berkaitan. Cuma kalau dilihat dari pengertian manajemen produksi dan operasional sedikit mirip. Tapi, keduanya jelas berbeda. Sangat berbeda! Seperti yang dijelaskan dalam UK Essays:

  1. Output: Dari segi output, manajemen produksi berhubungan dengan pembuatan produk seperti komputer, mobil dan sebagainya. Nah, kalau manajemen operasional akan berperan sebagai produk dan servisnya.
  2. Usage of Output: Produk diproduksi di waktu tertentu, sementara service dilakukan secara langsung.
  3. Klasifikasi Pengerjaan: Beberapa produk seperti komputer atau mobil, karyawan produksi cenderung lebih sedikit ketimbang servis.
  4. Costumer Contact: Costumer contact tidak terlibat produksi namun lebih banyak di bidang servis.

Baca juga: Manajemen Personalia

Penutup

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian Manajemen Produksi, Fungsi, Ruang Lingkup, dan Aspek-Aspek dalam Manajemen Produksi. Semoga bermanfaat.

 

Sumber : https://www.maxmanroe.com/vid/manajemen/pengertian-manajemen-produksi.html

 

Pengertian Manajemen Produksi dan Operasi beserta Ruang Lingkupnya

Untuk mengoperasikan perusahaan-perusahaan Manufaktur maupun Jasa , diperlukan ilmu pengetahuan tentang bagaimana mengolah sumber daya (input) menjadi hasil (Output) yang berupa barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh konsumen (pelanggan). Ilmu pengetahuan tersebut pada umumnya disebut dengan Ilmu Manajemen Produksi

Manajemen Produksi dan Operasi adalah serangkaian kegiatan yang mengolah faktor-faktor produksi untuk memberikan nilai tambah bagi barang atau jasa  melalui proses transformasi atau perubahan bentuk.

Read More…

Pengertian ERP (Enterprise Resource Planning) dan Manfaat Penerapannya

ERP adalah singkatan dari Enterprise Resource Planning yang dalam bahasa Indonesianya sering disebut dengan Perencanaan Sumber Daya Perusahaan. Menurut definsi dalam kamus American Inventory and Production Control System (APICS), yang dimaksud dengan ERP atau Enterprise Resource Planning adalah Sistem Informasi yang berorientasi Akuntansi untuk mengidentifikasikan dan merencanakan sumber daya perusahaan untuk membuat, mengirim dan memperhitungkan pesanan pelanggan. Sedangkan definisi ERP pada wikipedia adalah Sistem Informasi yang diperuntukan bagi perusahaan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan yang bersangkutan.

 

Pengertian ERP (Enterprise Resource Planning)

Pengertian ERP (Enterprise Resource Planning)

Pengertian ERP (Enterprise Resource Planning) – ERP adalah singkatan dari Enterprise Resource Planning yang dalam bahasa Indonesianya sering disebut dengan Perencanaan Sumber Daya Perusahaan. Menurut definsi dalam kamus American Inventory and Production Control System (APICS), yang dimaksud dengan ERP atau Enterprise Resource Planning adalah Sistem Informasi yang berorientasi Akuntansi untuk mengidentifikasikan dan merencanakan sumber daya perusahaan untuk membuat, mengirim dan memperhitungkan pesanan pelanggan. Sedangkan definisi ERP pada wikipedia adalah Sistem Informasi yang diperuntukan bagi perusahaan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan yang bersangkutan.

Ada juga yang mengatakan bahwa ERP adalah Sistem perencanaan perusahaan yang berbasis aplikasi komputer terpadu yang digunakan untuk mengelola sumber daya internal dan eksternal perusahaan. Sumber daya perusahaan tersebut termasuk aset-aset yang berwujud, keuangaan, material dan sumber daya manusia.

Jadi pada dasarnya, ERP (Enterprise Resource Planning) menggabungkan beberapa fungsi manajemen ke dalam sistem yang terintegrasi dan memfasilitasi semua arus informasi pada fungsi manajemen tersebut. ERP ini dirancang untuk mengotomasikan proses-proses dasar pada seluruh organisasi melalui database terpusat dan menghilangkan kebutuhan sistem yang berbeda yang dikelola oleh berbagai unit kerja dalam suatu organsasi.
Baca juga : Pengertian MRP (Material Requirement Planning). 

Keuntungan menerapkan ERP (Enterprise Resource Planning)

Pada organisasi atau perusahaan yang tidak menerapkan sistem ERP, umumnya menggunakan sistem database yang terpisah. Dimana setiap unit kerja memiliki database tersendiri, seperti Pemasaran yang memiliki database pemasaran, produksi memiliki data pemasaran, Sumber daya manusia atau HRD memiliki database HRD tersendiri, Purchashing memiliki database pembeliannya tersendiri dan bagian Finance (keuangan) memiliki database keuangan tersendiri. Sistem terpisah demikian memiliki database yang berbeda dan sering terjadi ketidaksesuaian sehingga sulit untuk pengelolaannya. ERP (Enterprise Resource Planning) ini dikembangkan untuk menggantikan sistem-sistem yang terpisah tersebut menjadi terintegrasi sehingga pengelolaannya lebih efektif dan efisien.

Berikut dibawah ini adalah beberapa keuntungan yang bisa dinikmati oleh organasasi yang berhasil menerapkan ERP atau Enterprise Resource Planning (Perencanaan Sumber Daya Perusahaan).

  • Integrasi Bisnis dan Akurasi Data yang lebih baik, Sistem ERP terdiri dari berbagai Modul dan Sub-modul yang dapat mewakili komponen bisnis tertentu. Jika data yang dimasukan pada suatu modul (contohnya data penerimaan material) maka modul-modul lain seperti “Pembayaran” dan “Persediaan” akan secara otomatis diperbaharui juga. Pembaharuan ini terjadi secara “real time” atau tepat pada waktu terjadinya transaksi. Data yang dimasukan tersebut hanya perlu sekali pemasukan saja yaitu saat terjadinya transaksi sehingga tidak perlu lagi ada pemasukan data pada modul lainnya. Dengan demikian, kebutuhan untuk beberapa kali entri data dapat dieliminasi (dihilangkan) dan kemungkinan terjadinya kesalahan pengetikan data dan duplikat data juga dapat diminimalisasikan. Struktur database yang terpusat juga memungkinkan administrasi dan keamanan yang lebih baik atau untuk menghindari terjadi kehilangan data yang penting.
  • Perencanaan dan Manajemen Sistem Informasi, Sistem ERP memiliki alat-alat pendukung pengambilan keputusan yang baik seperti alat perencanaan dan alat simulasi dapat membantu manajemen untuk lebih tepat memanfaatkan sumber dayanya seperti material, sumber daya manusia dan mesin atau peralatan kerja. Dalam menyajikan laporan, sistem ERP dapat menghasilkan laporan standar yang diperlukan oleh manajemen dan laporan tersebut dapat diakses oleh manajemen kapan saja saat dibutuhkan.
  • Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas, Selain menyediakan perencanaan yang lebih baik, sistem ERP juga dapat meningkatkan efisiensi pada aktivitas rutin harian seperti pemesanan, pengiriman, kinerja pemasok, manajemen kualitas, manajemen kas dan realisasi penjualan. Dengan adanya sistem ERP, siklus waktu penjualan ke kas dan pembayaran ke pemasok pun dapat dipersingkat.
  • Pembentukan Standarisasi Prosedur, Sistem ERP didasarkan pada proses praktek internasional terbaik yang diadopsi oleh organisasi yang menerapkannya. Pekerjaan menjadi lebih terstruktur sehingga tidak tergantung pada individu atau pekerja tertentu saja.

Modul-Modul Utama pada ERP

Seperti yang disebutkan sebelumnya, sistem ERP terdiri dari berbagai Modul dan Sub-modul yang mewakili komponen-komponen bisnis. Modul maupun sub-modul tersebut dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan organisasi yang ingin menerapkannya. Berikut ini adalah beberapa Modul Utama atau Modul dasar yang paling sering dijumpai dalam sistem ERP.

  1. Human Resource Module (Modul Sumber daya manusia)
  2. Inventory Module (Modul Persediaan/Inventaris)
  3. Sales and Marketing Module (Modul Penjualan dan Pemasaran)
  4. Purchase Module (Modul Pembelian)
  5. Finance and Accounting Module (Modul Keuangan dan Akuntansi)
  6. Customer Relations Management Module (Modul Manajemen Hubungan Pelanggan)
  7. Manufacturing Module (Modul Manufakturing)
  8. Supply Chain Management Module (Modul Manajemen Rantai Pasokan)

Selain modul-modul diatas, sebenarnya terdapat banyak lagi modul ataupun sub-modul lainnya yang dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing organisasi.

Sumber : https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-erp-enterprise-resource-planning/

 

Pengertian ERP (Enterprise Resource Planning) dan Manfaat Penerapannya

ERP (Enterprise Resource Planning) menggabungkan beberapa fungsi manajemen ke dalam sistem yang terintegrasi dan memfasilitasi semua arus informasi pada fungsi manajemen tersebut. ERP ini dirancang untuk mengotomasikan proses-proses dasar pada seluruh organisasi melalui database terpusat dan menghilangkan kebutuhan sistem yang berbeda yang dikelola oleh berbagai unit kerja dalam suatu organsasi.

Baca selengkapnya disini.

Read More…

Pengertian Biaya Produksi (Production Cost) dan Cara Menghitungnya

Pengertian Biaya Produksi (Production Cost) dan Cara Menghitungnya

pengertian biaya produksi (production cost) dan cara menghitung biaya produksi

Pengertian Biaya Produksi (Production Cost) dan Cara Menghitung Biaya Produksi – Sebagai seorang pemilik bisnis ataupun sebagai seorang manajer produksi, mengetahui berapa biaya produksi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menciptakan dan mempertahankan kelangsungan produksi dan bisnisnya sehingga dapat menguntungkan perusahaannya. Dengan mengetahui biaya pada setiap langkah dalam produksinya, manajemen dapat mengoptimalkan proses produksi, jadwal pengiriman dan kegiatan-kegiatan umum lainnya dalam upaya meningkatkan efisiensi produksi sehingga lebih baik daripada sebelumnya.

Dengan mengetahui dan menganalisis biaya produksi, manajemen dapat menetapkan harga barang dan jasanya dengan tepat untuk mencapai margin yang sesuai. Sebagai contoh, manajemen perusahaan Roti akan melacak harga tepung terigu, telur, gula pasir, mentega dan komoditas lainnya yang digunakan dalam produksi roti tersebut. Jika ada kenaikan harga barang-barang ini, produksi Roti juga harus menaikkan harganya untuk mempertahankan tingkat keuntungan yang sama.

Jadi apa yang dimaksud dengan Biaya Produksi dan apa saja yang diklasifikasikan sebagai biaya produksi. Berikut ini pembahasan singkatnya.

Pengertian Biaya Produksi menurut Para Ahli

Untuk lebih jelas mengenai Biaya Produksi atau Production Cost, berikut ini adalah beberapa pengertian biaya produksi menurut para ahli.

  • Pengertian Biaya Produksi menurut Kuswadi (2005:22), Biaya Produksi adalah biaya yang berkaitan dengan perhitungan beban pokok produksi atau beban pokok penjualan. Biaya produksi atau penjualan terdiri atas biaya bahan baku dan bahan penolong, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
  • Pengertian Biaya Produksi menurut Suherman Rosyidi (2003:333), Biaya Produksi adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat menghasilkan output atau dengan kata lain yaitu nilai semua faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan (memproduksi) output.
  • Pengertian Biaya Produksi menurut Amin Widjaya Tunggal (1993:1), Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang berhubungan dengan produksi suatu item, yaitu jumlah dari bahan langsung, upah langsung dan biaya overhead pabrik.
  • Pengertian Biaya Produksi menurut Abdul Halim (1988:5), Biaya produksi yakni biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan produksi dari suatu produk dan akan dipertemukan (dimatchkan) dengan penghasilan (revenue) di periode mana produk itu di jual.
  • Pengertian Biaya Produksi menurut Mulyadi (1995:14), Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.

Dari beberapa pengertian dan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Biaya Produksi adalah sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk atau jasa.

Jenis-jenis Biaya Produksi

Biaya Produksi atau Production Cost dapat diartikan sebagai total biaya yang harus dikeluarkan untuk sumber daya yang digunakan untuk memproduksi barang atau jasa untuk dijual kepada pelanggan. Biaya-biaya produksi ini pada umumnya terdiri dari 3 jenis atau kategori, yaitu biaya bahan langsung (Direct Material Cost), biaya tenaga kerja langsung (Direct Labor Cost) dan biaya overhead pabrik (Factory Overhead Cost).

1. Biaya Bahan Langsung (Direct Materials Cost)
Biaya Bahan Langsung atau Direct Material Cost adalah biaya pembelian bahan baku yang langsung masuk ke dalam produksi suatu produk. Bahan-bahan langsung ini dikonsumsi sebagai bagian dari proses produksi. Contohnya seperti bahan baku Roti adalah tepung, telur dan gula pasir. Bahan baku mainan anak adalah plastik dan karet.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
Biaya Tenaga Kerja Langung atau Direct Labor Cost adalah biaya penuh dari semua tenaga kerja yang terlibat langsung dalam produksi barang atau jasa. Tenaga kerja yang dimaksud disini adalah orang-orang yang bekerja langsung di jalur produksi. Biaya Tenaga Kerja Langsung ini biasanya berupa upah, gaji, tunjangan dan asuransi yang dibayarkan ke karyawan yang terlibat langsung dalam proses produksi barang.

3. Biaya Overhead Pabrik (Factory Overhead Cost)
Biaya Overhead Pabrik atau Factory Overhead Cost adalah biaya yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi produksi, tetapi tidak langsung dikonsumsi pada unit individu. Biaya Overhead Pabrik ini meliputi :

  • Bahan Tidak Langsung yang digunakan dalam proses produksi tetapi tidak dapat dilacak langsung ke produk yang bersangkutan. Contoh seperti lem, minyak, pembersih dan lainnya sebagainya. Bahan-bahan ini diklasifikasikan sebagai bahan tidak langsung karena tidak akan mungkin (atau tidak efektif) untuk menentukan biaya pasti dari bahan yang masuk ke dalam produksi suatu produk.
  • Tenaga Kerja Tidak Langsung, yaitu tenaga kerja yang tidak terlibat langsung dalam produksi produk. Contohnya seperti pengawas, teknisi perawatan mesin dan petugas keamanan. Upah dan tunjangan tenaga kerja tersebut diklasifikasikan sebagai biaya tenaga kerja tidak langsung.
  • Biaya-biaya Lainnya, biaya-biaya seperti sewa pabrik, sewa mesin dan asuransi biasanya diklasifikasikan sebagai biaya-biaya lainnya dalam memperhitungkan biaya produksi.

Baca juga : Pengertian Biaya Overhead Pabrik dan Jenis-jenis biaya Overhead Pabrik.

Contoh Perhitungan Biaya Produksi

Sebuah perusahaan yang memproduksi Handphone sedang memperhitungkan biaya produksi per unit Handphone dari total produksi sebulan. Biaya Bahan Langsung dan biaya Tenaga Kerja Langsung yang dikeluarkannya adalah masing-masing sebesar Rp. 20 miliar dan Rp. 200 juta. Sedangkan biaya Overhead Pabrik adalah sebesar Rp. 150 juta. Jumlah unit yang telah diproduksi adalah sebanyak 10.000 unit. Berapakah Biaya Produksi per Unit-nya.

Diketahui :

Biaya Bahan Langsung = Rp. 20.000.000.000,-
Biaya Tenaga Kerja Langsung = Rp. 200.000.000,-
Biaya Overhead Pabrik = Rp. 150.000.000,-
Jumlah Unit yang diproduksi = 10.000 unit

Penyelesaiannya :

Biaya Produksi per Unit = (Biaya Bahan Langsung + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik) / Jumlah Unit yang diproduksi
Biaya Produksi per Unit = (20.000.000.000 + 200.000.000 + 150.000.000) / 10.000
Biaya Produksi per Unit = 20.350.000.000 / 10.000
Biaya Produksi per Unit = 2.350.000

Jadi Biaya Produksi pada bulan yang bersangkutan adalah sebesar Rp. 20.350.000.000,- dan apabila dihitung menjadi per unit maka Biaya Produksi per Unit-nya adalah sebesar Rp. 2.350.000,-. Jika Perusahaan tersebut menjual Handphone tersebut dengan harga Rp. 2.800.000,- per unit, maka margin keuntungannya adalah sebesar Rp. 450.000,- atau sekitar 19,15%.

Sumber : https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-biaya-produksi-production-cost-cara-menghitung-biaya-produksi/

 

Pengertian Analisis Rasio Keuangan dan Jenis-jenisnya

Pengertian Analisis Rasio Keuangan dan Jenis-jenisnya

Pengertian Analisis Rasio Keuangan dan Jenis-jenis Rasio Keuangan

Pengertian Analisis Rasio Keuangan dan Jenis-jenisnya – Analisis Rasio Keuangan adalah analisis kuantitatif yang digunakan untuk mengevaluasi berbagai aspek kinerja operasi dan keuangan perusahaan berdasarkan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan seperti laporan neraca (balance sheet), laporan aliran kas (cash flow statement) dan laporan laba-rugi (income statement). Rasio Keuangan ini dapat digunakan oleh manajemen perusahaan, kreditur atau pemberi pinjaman serta investor dan para pemegang saham. Rasio Keuangan ini juga digunakan oleh para analisis sekuritas dan lembaga pemeringkat kredit untuk menilai kekuatan dan kelemahan berbagai perusahaan yang akan dianalisisnya.

Pengertian Analisis Rasio Keuangan menurut para ahli

Berikut ini adalah beberapa definisi atau pengertian Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) menurut beberapa ahli :

  • Menurut Irawati (2005 : 22), Rasio keuangan merupakan teknik analisis dalam bidang manajemen keuangan yang dimanfaatkan sebagai alat ukur kondisi keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu, ataupun hasil-hasil usaha dari suatau perusahaan pada satu periode tertentu dengan jalan membandingkan dua buah variabel yang diambil dari laporan keuangan perusahaan, baik daftar neraca maupun laba rugi.
  • Menurut Kasmir (2012:104), Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antarkomponen yang ada di antara laporan keuangan.
  • Menurut Samryn (2011), Analisis Rasio Keuangan adalah suatu cara yang membuat perbandingan data keuangan perusahaan menjadi lebih arti. Rasio keuangan menjadi dasar utk menjawab beberapa pertanyaan penting mengenai kesehatan keuangan dari perusahaan.
  • Menurut Munawir (2004:37), Analisis rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut.

Manfaat Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis)

Analisis Rasio Keuangan memberikan berbagai manfaat bagi manajemen perusahaan, kreditur dan investor. Beberapa manfaat analisis rasio keuangan adalah sebagai berikut :

  1. Membantu menganalisis tren kinerja sebuah perusahaan.
  2. Membantu para stakeholder untuk membandingkan hasil keuangan suatu perusahaan dengan pesaingnya.
  3. Membantu Manajemen, kreditur dan investor untuk mengambil keputusan.
  4. Dapat menunjukan letak permasalahan keuangan perusahaan serta kekuatan dan kelemahannya.

Jenis-jenis Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis)

Pada umumnya, Analisis Rasio Keuangan (Financial Ratio Analysis) dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu Analisis Rasio Profitabilitas, Analisis Rasio Solvabilitas, Analisis Rasio Likuiditas dan Analisis Rasio Aktivitas.

1. Analisis Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba (profit) dari pendapatan (earning) yang berhubungan dengan penjualan, aset dan ekuitas. Beberapa jenis rasio profitabilitas sering yang digunakan adalah Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin), Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin), Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Sales (ROS), Return on Capital Employed (ROCE).
Baca juga : Pengertian Analisis Rasio Profitabilitas dan Jenis-jenisnya.

2. Analisis Rasio Solvabilitas

Rasio Solvabilitas (Solvency Ratio) atau disebut juga dengan Rasio Leverage (Leverage Ratio) adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya seperti pembayaran bunga atas hutang, pembayaran pokok akhir atas hutang dan kewajiban-kewajiban tetap lainnya. Jenis-jenis Rasio Solvabilitas atau Rasio Leverage yang sering digunakan adalah Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio), Rasio Hutang (Debt Ratio) dan Times Interest Earned Ratio.
Baca juga : Pengertian Rasio Solvabilitas dan Jenis-jenisnya.

3. Analisis Rasio Likuiditas

Rasio Likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban hutang jangka pendeknya saat jatuh tempo. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya saat jatuh tempo. Rasio Keuangan yang termasuk sebagai rasio likuiditas ini diantaranya adalah rasio lancar (asset ratio), rasio cair (quick ratio acid test) dan Rasio Kas (Cash Ratio).
Baca juga : Pengertian Analisis Rasio Likuiditas dan Jenis-jenisnya.

4. Analisis Rasio Aktivitas

Rasio Aktivitas atau sering juga disebut dengan Rasio Efisiensi adalah jenis analisis Rasio Keuangan yang mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan aset mereka untuk menghasilkan pendapatan. Yang tergolong sebagai Analisis Rasio Aktivitas ini diantaranya adalah Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turnover Ratio), Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Activa Turnover Ratio) dan Rasio Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Asset Turnover Ratio).
Baca juga : Pengertian Analisis Rasio Aktivitas dan Jenis-jenisnya.

Sumber : https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-analisis-rasio-keuangan-jenis-rasio-keuangan/

 

Pengertian Manajemen Keuangan dan Ruang Lingkupnya

Manajemen Keuangan atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Financial Management adalah proses merencanakan, mengatur, mengarahkan dan mengendalikan keuangan seperti pengadaan dan pemanfaatan dana organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya. Menurut Howard dan Upton, Manajemen Keuangan adalah aplikasi prinsip umum manajerial pada area pengambilan keputusan keuangan. Menurut Sutrisno (2005:3), yang dimaksud dengan Manajemen keuangan adalah semua aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut secara efisien.

Read More…

Pengertian Inspeksi (Inspection) dalam Quality Control

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Inspeksi diartikan sebagai pemeriksaan seksama, pemeriksaan secara langsung tentang peraturan, tugas dan lain sebagainya. Jika kata Inspection atau Inspeksi ini kita aplikasikan ke dalam pengendalian kualitas maka dapat diartikan bahwa Inspeksi atau Inspection adalah pemeriksaan secara seksama terhadap suatu produk yang dihasilkan apakah sesuai dengan standar dan aturan yang telah ditetapkan padanya.

Silakan baca selengkapnya disini

Read More…

Pengertian Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) beserta perbedaannya

Salah satu faktor yang sangat penting dalam persaingan pasar adalah kualitas suatu produk maupun layanan. Kualitas sering dijadikan sebagai suatu tolok ukur dan pembeda untuk suatu produk dan layanan antara satu produsen dengan produsen lainnya. Oleh karena itu, semua produsen dan penyedia layanan selalu mencari cara untuk meningkatkan kualitas produk ataupun kualitas layanannya. Kualitas dapat diartikan sebagai tingkat baik atau buruknya suatu produk yang dihasilkan dan apakah produk yang dihasilkan tersebut sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan ataupun kesesuaiannya terhadap kebutuhan.

Selengkapnya disini

Read More…

Pengertian Gugus Kendali Mutu (GKM)/Quality Control Circle (QCC)

Gugus Kendali Mutu (GKM) atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Quality Control Circle (QCC) adalah suatu kegiatan dimana sekelompok karyawan yang bekerjasama dan melakukan pertemuan secara berkala dalam mengupayakan pengendalian mutu (kualitas) dengan cara mengidentifikasikan, menganalisis dan melakukan tindakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan dengan menggunakan alat-alat pengendalian mutu (QC Tools).

Read More…